HALUSINASI


AKADEMI KEPERAWATAN PEMERINTAH KABUPATEN KOTAWARINGIN TIMUR
PRAKTEK KLINIK KEPERAWATAN JIWA

LAPORAN PENDAHULUAN

A. Masalah Utama:
Perubahan sensori perceptual : halusinasi ………….

B. Pengertian
Halusinasi adalah gangguan pencerapan (persepsi) panca indera tanpa adanya rangsangan dari luar yang dapat meliputi semua sistem penginderaan di mana terjadi pada saat ke¬sadaran individu itu penuh/baik. (Keliat, 1999), dimana dasarnya mungkin organik, fungsional, psikotik maupun histerik (Maramis, 1995)

C. Proses Terjadinya Masalah
1. Penyebab halusinasi
Secara umum dapat dikatakan segala sesuatu yang mengancam harga diri (self esteem) dan keutuhan keluarga dapat merupakan penyebab terjadinya halusinasi. Ancaman terhadap harga diri dan keutuhan keluarga meningkatkan kecemasan. Secara klinis, yang menjadi penyebab halusinasi adalah isolasi sosial : menarik diri.
Adapun manifestasi klinis dari isolasi sosial : menarik diri adalah :
Data Subyektif :
– Merasa malu atau bersalah
– Merasa sendiri
– Merasa tidak ada sokongan
– Merasa kurang percaya diri
– Merasa kurang keberanian
– Tidak peduli dengan lingkungan
– Apatis
Data Obyektif :
– Bicara tidak jelas
– Merengek, menangis
– Mudah panik dan marah secraa tiba-tiba
– Selalu menunduk
– Sering duduk menyendiri
– Menghindar dari orang lain
2. Akibat yang ditimbulkan dari halusinasi
Akibat dari halusinasi adalah perilaku kekerasan dimana klien beresiko mencederai diri sendiri, orang lain dan lingkungan.
Adapun manifestasi perilaku kekerasan adalah :
Data Subyektif :
– Mengucapkan kalimat merendahkan, meremehkan dan menghina
– Menyampaikan kalimat menentang
– Menuntut
– Mengungkapkan ingin mencederai diri, orang lain dan lingkungan
Data Obyektif :
– Muka merah
– Pandangan tajam
– Otot tegang
– Nada suara tinggi
– Berdebat
– Memaksakan kehendak

D. Data yang perlu dikaji
1. Jenis dan Isi Halusinasi
Jenis halusinasi Data obyektif Data Subyektif
Halusinasi dengar / suara – Bicara atau tertawa sendiri
– Marah-marah tanpa sebab
– Menyondongkan telinga ke arah tertentu
– Menutup telinga – Mendengar suara atau kegaduhan
– Mendengar suara mengajak bercakap-cakap
– Mendengar suara menyuruh melakukan sesuatu yang berbahaya
Halusinasi penglihatan / visual – Menunjuk-nunjuk ke arah sesuatu
– Ketakutan pada sesuatu yang tidak jelas – Melihat bayangan, sinar, bentuk geometris, bentuk kartoon, melihat hantu / monster
Halusinasi penghidu – Menghidu seperti sedang membaui bau-bauan tertentu
– Menutup hidung – Membaui bau-bauan seperti darah, urin, feses, kadang-kadang bau yang menyenangkan
Halusinasi pengecapan – Sering meludah
– Muntah – Merasakan rasa seperti darah, feses, urin
Halusinasi perabaan / taktil – Menggaruk-garuk permukaan kulit – Mengatakan ada serangga di permukaan kulit
– Merasa seperti tersengat listrik

2. Waktu, frekuensi dan situasi yang menyebabkan halusinasi
– Kapan halusinasi terjadi : pagi, siang, sore, malam. Jika memungkinkan : jam berapa.
– Frekuensi : terus-menerus atau hanya sesekali
– Situasi : apakah saat sendiri, bersama orang lain atau setelah mengalami situasi tertentu
3. Respon halusinasi
Apa yang dirasakan atau dilakukan saat halusiansi timbul

E. Rencana Tindakan
TINDAKAN KEPERAWATAN UNTUK PASIEN
1. Tujuan :
a. Pasien mengenali halusinasi yang dialaminya
b. Pasien dapat mengontrol halusinasinya
c. Pasien mengikuti program pengobatan secara optimal
2. Tindakan yang dilakukan :
a. Membantu pasien mengenali halusinasinya
– Berdiskusi dengan pasien mengenai isi halusinasi, waktu terjadinya halusinasi, situasi yang menyebabkan halusinasi muncul serta respon terhadap halusinasi
b. Melatih pasien mengontrol halusinasi, dengan cara :
– Menghardik :
Menghardik halusinasi adalah upaya mengendalikan diri terhadap halusinasi dengan cara menolak halusinasi yang muncul. Pasien dilatih untuk mengatakan tidka terhadap halusinasi yang muncul dan tidak menanggapi halusinasinya. Tahapan tindakan meliputi :
• Menjelaskan cara menghardik halusinasi
• Memperagakan cara menghardik
• Meminta pasien memperagarakan ulang
• Memantau penerapan cara ini, menguatkan perilaku pasien
– Bercakap-cakap dengan orang lain :
Ketika pasien bercakap-cakap dengan orang lain maka akan terjadi distraksi terhadap halusinasi.
– Melakukan aktivitas yang terjadwal :
Dengan beraktivitas secara terjadwal maka pasien tidak akan memiliki banyak waktu luang yang memungkinkan munculnya halusinasi. Tahapan tindakan yang dapat dilakukan antara lain :
• Menjelaskan pentingnya kegiatan yang terjadwal untuk menghindari munculnya halusinasi
• Mendiskusikan aktivitas yang biasa dilakukan oleh pasien
• Melatih pasien melakukan aktivitas
• Menyusun jadwal aktivitas sehari-hari. Diupayakan dari bangun tidur sampai menjelang tidur, 7 hari dalam seminggu.
• Memantau pelaksanaan jadwal kegiatan, memberikan penguatan terhadap perilaku pasien yang positif
– Menggunakan obat secara teratur :
Tindakan yang dapat dilakukan :
• Jelaskan guna obat
• Jelaskan akibat jika putus obat
• Jelaskan cara mendapatkan obat/berobat
• Jelaskan cara menggunakan obat dengan prinsip 5 benar (benar obat, benar pasien, benar cara, benar waktu dan benar dosis).

TINDAKAN KEPERAWATAN UNTUK KELUARGA
1. Tujuan :
a. Keluarga dapat terlibat dalam perawatan pasien baik di rumah sakit maupun di rumah
b. Keluarga dapat menjadi sistem pendukung yang efektif untuk pasien
2. Tindakan yang dilakukan :
a. Diskusikan masalah yang dihadapi keluarga dalam merawat pasien
b. Berikan pendidikan kesehatan tentang pengertian halusinasi, jenis halusinasi, tanda dan gejala, proses terjadinya halusinasi serta cara merawat halusinasi
c. Berikan kesempatan kepada keluarga untuk memperagakan cara merawat pasien dengan halusinasi langsung di hadapan pasien
d. Berikan pendidikan kesehatan kepada keluarga tentang perawatan lanjutan pasien

DAFTAR PUSTAKA

CMHN (2006) Modul Pelatihan Asuhan Keperawatan Jiwa Masyarakat. Jakarta : Direktorat Kesehatan Jiwa Dep-Kes RI
Azis R, dkk. Pedoman asuhan keperawatan jiwa. Semarang : RSJD Dr. Amino Gondoutomo. 2003
Boyd MA, Hihart MA. Psychiatric nursing : contemporary practice. Philadelphia : Lipincott-Raven Publisher. 1998
Keliat BA. Proses kesehatan jiwa. Edisi 1. Jakarta : EGC. 1999
Maramis, WF. Catatan ilmu kedokteran jiwa. Surabaya : Airlangga Univercity Press. 1995
Stuart GW, Sundeen SJ. Buku saku keperawatan jiwa. Edisi 3. Jakarta : EGC. 1998
Tim Direktorat Keswa. Standar asuhan keperawatan kesehatan jiwa. Edisi 1. Bandung : RSJP Bandung. 2000

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s