BAHAGIA DI USIA SENJA


Kesehatan fisik dan psikis yang baik merupakan salah satu prasyarat untuk dapat hidup bahagia. Menurut para ahli yang dimaksud dengan bahagia adalah perasaan puas, senang, nyaman dan enak terhadap seluruh aspek kehidupan manusia. Perasaan bahagia yang diidam-idamkan semua orang ternyata sebagian besar berkat usaha, bukan genetik atau diturunkan.
Jika Anda ingin lebih bahagia lagi cobalah strategi berikut: seringlah tersenyum, berpikirlah selalu optimis dan positif, lakukanlah sesuatu bukan mencoba, hiduplah dengan apa yang Anda sukai, pelihara hubungan interpersonal, kelola waktu dengan baik, istirahat yang cukup, kurangi stres dan kembangkan sisi spiritual Anda. Dengan mencoba mudah-mudahan Anda menjadi lebih bahagia.
Keharmonisan perkawinan dan masalah seks pada usia lanjut jarang dibicarakan, karena membicarakan seks pada usia ini sering dianggap tidak pantas atau memalukan. Untuk mencegah dampak merugikan dan untuk menjaga keharmonisan perkawinan pada usia lanjut, seks pada usia lanjut perlu dibicarakan.
Hubungan seks adalah salah satu faktor yang paling penting di dalam kehidupan rumah tangga, kadang kala hubungan seksual ini yang paling berpengaruh. Sejak usia 45-50 tahun kemampuan fisik pria mulai menurun dan umumnya tinggal 50% dibandingkan waktu muda. Keadaan ini seringkali menimbulkan rasa khawatir dan takut akan semakin menurun, sehingga kehidupan yang menyenangkan ini tidak dapat dinikmatinya lagi, termasuk aktivitas seksual.
Turunnya kemampuan seksual pada pria dapat disebabkan oleh:
1. Atropi testis (hormon testosteron menurun).
2. Kemampuan fisik turun (penyakit diabetes mellitus, hipertensi, obesitas atau menggunakan obat-obatan terutama untuk darah tinggi).
3. Faktor psikososial lainnya seperti:
– Perubahan siklus hidup (pensiun atau istri sakit).
– Kurang prioritas terhadap seks, tidak ada waktu dan tenaga untuk seks.
– Anak-anak tidak ada lagi di rumah, sehingga rumah kosong kemudian keseimbangan jiwa terganggu yang menyebabkan masalah dalam kehidupan seksual.
– Kemampuan fisik yang menurun disertai tanda-tanda ketuaan (rambut putih, gigi ompong atau kulit keriput) akan mengganggu keseimbangan jiwa dan kehidupan seks.
Ada sebagian orang yang kehidupan seksnya justru meningkat, khususnya di luar rumah atau sebaliknya menurun sampai terjadi disfungsi ereksi.
Meskipun ejakulasi dini (ED) atau premature ejaculation merupakan salah satu gangguan fungsi seksual yang sering ditemukan, namun sampai saat ini masih sulit untuk mendapatkan definisi yang tepat. Definisi terdahulu menggunakan durasi waktu hubungan seks sebagai ukuran. Dikatakan kondisi itu premature ejaculation bila waktu yang digunakan untuk hubungan seks kurang dari 2 menit.
Human Sexual Inadequacy (Kinsey) mencoba membuat definisi premature ejaculation yang berbeda, yaitu dalam term interaksi antara pasangan seksual, tidak hanya dilihat dari faktor laki-lakinya saja. Seorang laki-laki baru dikatakan menderita premature ejaculation bila pasangan seksnya (istri) tidak memperoleh atau mendapatkan orgasme paling sedikit 50% dari hubungan seks yang dilakukannya dalam periode waktu tertentu. Definisi ini tidak dapat digunakan pada situasi pasangan perempuan atu istri mengalami kesulitan atau jarang bahkan tidak pernah mendapatkan orgasme.
Perasaan takut terhadap “penampilan” sewaktu melakukan hubungan seksual sering meningkatkan risiko untuk mengalami premature ejaculation dan ini dapat mendahului terjadinya disfungsi ereksi. Penderita mengalami lingkaran Fears-spectator-failure-greater fears. Keadaan umum yang buruk, kelelahan terus-menerus serta tekanan mental dapat menghentikan kegiatan seksual pria. Suami yang lelah setelah bekerja atau merasa susah memikirkan usahanya, yang ia inginkan hanyalah membaca koran kemudian tidur. Keinginan untuk berhubungan seks tidak ada. Apabila ia tetap melakukan demi cinta pada istri, mungkin akan berakhir dengan kegagalan. Bila kegagalan itu terjadi pada mereka yang berusia lanjut, di mana kelemahan sudah mulai terlihat, hal ini dapat memberikan keyakinan pada mereka akhir kehidupan seks akan tiba. Takut dan ketakutan mempunyai peran penting untuk gangguan fungsi seksual, kegagalan yang datang berturut-turut, apa pun penyebabnya dapat menyebabkan pria yang sebenarnya poten menjadi kehilangan percaya diri akan kemampuan seksualnya. Kesulitan untuk mendapatkan ereksi dapat pula terjadi karena penderita prematue ejaculation berupaya keras mengontrol dorongan seksualnya dengan cara distraksi (memikirkan masalah pekerjaan atau menghitung balik dari mulai angka 1.000).
Umumnya para istri pasangan dari suami yang menderita premature ejaculation dapat memahami dan menerima gangguan yang diderita suaminya. Upaya penderita dengan menghindari aktivitas seksual dengan berbagai macam alasan akan mempersulit dan memperburuk keadaan.
Meskipun penderita premature ejaculation yang datang ke Klinik Seks jumlahnya lebih sedikit dibandingkan disfungsi ereksi, namun diperkirakan angkanya di masyarakat jauh lebih tinggi. Diperkirakan 15-20% dari laki-laki mempunyai paling sedikit dalam tingkat sedang menderita kesulitan mengontrol ejakulasi yang terlalu cepat.
Beberapa penderita mencoba mengatasi premature ejaculation dengan cara menggunakan kondom sewaktu hubungan seksual, dengan maksud mengurangi rangsangan genital. Tentu ini hanya akan berguna bila penyebabnya adalah genital yang terlalu sensitif. Sebagian lagi mencoba mengatasinya dengan sedikit meminum minuman beralkohol, tentu saja untuk umat Islam cara ini dilarang. Upaya lain yang dapat dilakukan adalah desensitisasi dengan menggunakan krim dan ointment.
Pada pengobatan premature ejaculation, pendekatan pada pasangan seks/istri lebih penting dibandingkan pada suami. Sewaktu terapis melakukan diskusi dengan pasangan suami-istri mengenai fisiologi ejakulasi, diperkenalkan pada mereka metode spesifik yaitu squeeze technique. Metode ini bertujuan untuk mengondisikan kembali refleks ejakulasi (kemampuan mengendalikan ejakulasi). Setelah suami mendapat rangsangan sentuhan atau rabaan (bisa dalam keadaan ereksi atau tidak), istri melakukan penekanan secara periodik, istri meletakkan ibu jarinya pada bagian belakang sebelah atas penis (frenulum) dengan posisi jari-jari yang lain di bagian atas (dorsum penis). Bila dirasakan akan ejakulasi tekanlah selama 4 detik, kemudian lepaskan. Penekanan harus dari atas dan bawah, tidak boleh dari samping ke samping. Hati-hati penekanan yang dilakukan oleh istri jangan sampai menggunakan kuku, karena ini akan menimbulkan sensasi nyeri pada suami. Lakukanlah latihan ini berulang-ulang sampai suami mampu mengendalikan ejakulasi. Bila pasangan suami istri tersebut akan melakukan hubungan seksual, istri perlu sepakat terlebih dahulu akan menggunakan squeeze tiga atau enam kali sebelum penetrasi. Untuk mengontrol ejakulasi dapat pula dilakukan teknik lain dari squeeze, yaitu penekanan di bagian dalam pangkal penis (basilar squeeze) dan ini hanya dilakukan selama melakukan hubungan seksual.***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s