Mengubah Nilai-Nilai PANCASILA Menjadi Perilaku


Sejak bulan Agustus yang lalu, kita setiap bulannya memperingati hari-hari yang dalam bahasa agamanya seringkali disebut  “Hari-hari Tuhan”. Ada peringatan 17 Agustus, ada Sumpah Pemuda, dan ada Hari Pahlawan.

Bisa disebut “Hari-hari Tuhan” karena pada hari-hari itu, kebesaran dan keterlibatan Tuhan sangat nampak dan sangat berarti. Hari-hari itu kita peringati tentu bukan sekedar supaya tidak lupa tanggal dan peristiwa sejarah. Lebih dari itu, agar kita menjadi bangsa yang tidak kehilangan identitas dan kualitas ke-Indonesia-an, yang dibentuk dari sekian rentetan sejarah, yang kemudian mengilhami lahirnya Pancasila sebagai way of life bangsa ini.

Rumusan Pancasila lahir dari bagaimana bangsa kita berproses dalam perjuangan, gesekan, dan pemahaman terhadap takdir kolektif kita. Takdir kolektif bangsa kita yang memang harus diterima itu antara lain: adanya keragaman suku, agama, dan bahasa, adanya potensi kekayaan alam yang berlimpah, adanya daerah pariwisata yang banyak, dan adanya format kultur yang spesifik dari proses peradaban yang spesifik pula.

Panduan Kolektif

Seperti juga takdir personal kita, supaya takdir yang begitu adanya itu berproses ke arah yang sebagaimana seharusnya, maka dibutuhkan panduan kolektif supaya cetakan identitas dan kualitas menjadi lebih bagus.

Pancasila adalah panduan kolektif dari bangsa kita. Tak masalah ada banyak agama di negara kita. Hal yang terpenting adalah kualitas ber-Tuhan harus lebih menonjol ketimbang menonjolkan identitas agamanya. Menirukan ucapan Bung Hatta, beragama di Indonesia itu harus seperti garam dalam masakan. Fisik garamnya tidak harus ditonjolkan mentah-mentah, tapi rasanya harus muncul dalam cita-rasa masakan itu dengan mencairkan diri.

Para pendiri bangsa ini dengan sangat cerdas berhasil mengolah berbagai latarbelakang pendidikan, sosial ekonomi dan agama sedemikian rupa sehingga memunculkan karakteristik Indonesia yang pancasila. Pemandangan yang agak berbeda dari yang seringkali kita saksikan kini. Pada saat ini, sudah mulai ada anak bangsa yang me-malaysia-kan atau me-timur-tengah-kan cara beragama, meng-amerika-kan model ekonomi, mem-barat-kan demokrasi, meng-asing-kan Sumber Daya Alam.

Ini terjadi karena tidak ada pengolahan internal yang sinergis dan kreatif, maunya asal copy-paste, bukan sintesis: mencari berbagai keunggulan yang berbeda dalam format yang utuh.

Masih Sebatas Nilai

Ada cerita dari salah seorang tokoh Indonesia saat menghadiri pertemuan Internasional. Tokoh kita ini diledek oleh tokoh dari negara lain. Substansi ledekannya kira-kira begini: “Bangsa kami tidak punya rumusan sebagus Pancasila, tapi keadaannya tidak separah Indoensia”

Entah ledekan itu fakta atau fiksi, tapi memang sepertinya ledekan itu akurat. Sebagai rumusan untuk memandu langkah bangsa, Pancasila memang sangat bagus tapi sayang kita belum mampu menjadikan rumusan tersebut sebagai keunggulan kolektif. Dengan adanya berbagai masalah yang terjadi pada bangsa ini, mulai dari krisis ekonomi sampai dengan krisis moral,  terlalu  minim alasan untuk menyebut diri sebagai bangsa ber-Tuhan dalam kualitas tinggi, bangsa berperikemanusiaan, beradab, dan berkeadilan sosial.

Pertanyaannya adalah mengapa kita gagal memanfaatkan rumusan tersebut menjadi “way of life”? Jika meminjam penjelasan dalam manajemen korporasi, salah satu penyebabnya adalah karena selama ini, terutama paska Kemerdekaan, Pancasila itu masih baru kita jadikan sebatas nilai-nilai. Nilai-nilai yang rumusan atau definisi kebajikan yang kita hafal di kepala. Padahal nilai-nilai itu seharusnya melahirkan kultur atau standard perilaku bagaimana kita harus merespons suatu kondisi tertentu. Ketika masih ada pelajaran Pendidikan Moral Pancasila (PMP) semasa Ode Baru, kita mungkin dengan gampamng kita menemukan siswa-siswa yang sangat bagus dalam pelajaran PMP tersebut tetapi ternyata perilakunya sangat tidak “membanggakan”. Inilah sebenarnya bukti nyata bagaimana Pancasila hanya berakhir dalam rumusan kebajikan yang ada di tingkat hafalan saja.

Saluran

Nilai-nilai yang kita hafal itu tidak akan menjadi kultur dengan dirinya sendiri. Ibarat bola, supaya masuk ke gawang, harus ditendang dan diperjuangkan. Memang ini tidak mudah.

Kalau melihat ke teorinya, supaya nilai-nilai itu menjadi kultur, dibutuhkan saluran yang mengolah proses transformasi, dari rumusan di kepala menjadi perilaku. Saluran itu antara lain:

Kumpulan berbagai simbol atau atribut fisik, misalnya lambang, logo, slogan pidato, pakaian, dan seterusnya. Ini dibutuhkan, tetapi kontribusinya kecil.

Keteladanan, dari tokoh bangsa, formal atau informal, organisasi atau individu, dari cara pandang, sikap, keyakinan, dan kebiasaan.

Pengalaman kolektif dalam merasakan, menghadapi, dan menyelesaikan masalah. Diklaimnya kreasi bangsa, seperti tari pendet dan gamelan oleh bangsa lain, dapat dijadikan pengalaman untuk menyatukan perilaku kolektif.

Pembuktian. Ikut campur-tangannya pemerintah dalam melindungi petani dari permainan para cukong, dan lain-lain dapat dijadikan bukti keadilan sosial yang beradab.

Pendidikan. Isi kurikulum, standard hasil pendidikan, dan aturan-aturan yang dikeluarkan sangat besar peranannya dalam membentuk perilaku.

Dalam banyak hal, tokoh-tokoh pemerintah sudah melakukan sebagian besar proses transformasi agar nilai Pancasila itu menjadi perilaku. Tapi, seperti kritik yang kita dengar, masalahnya ada pada motif. Kalau motifnya sebatas untuk kepentingan seremonial belaka, slogan pidato belaka, atau untuk kepentingan publikasi kampanye belaka, maka sudah pasti kontribusinya sangat kecil.

Tahapan Mengajarkan Nilai-nilai

Dunia pendidikan seharusnya berfungsi sebagai agen transformasi yang memiliki peran sangat besar. Tak berlebihan jika ada pendapat yang mengatakan bahwa bangsa ini harus ditata ulang melalui dunia pendidikannya, mulai dari kurikulum, fasilitas pendukung, dan terutama para guru atau dosen.

Mengapa guru menjadi penting dalam hal ini. Ini karena gurulah yang berhadapan langsung dengan generasi yang akan menggantikan kepemimpinan bangsa. Tugas guru dalam mentransfer nilai sangat lah berat. Nilai-niali tidak bisa ditransfer hanya dengan diajarkan dan diujikan, seperti mengajarkan ketrampilan atau pengetahuan. Jika kita mengacu pada formula Bloom (dalam: Bloom’s Taxonomy of Cognitive Domain: 1956), ada enam tahapan yang dilalui agar nilai-nilai itu membentuk perilaku. Tahapan-tahapan tersebut adalah sebagai berikut:

Tahapan 1: Pengetahuan

Tahapan 2: Pemahaman

Tahapan 3: Penerapan / pengalaman

Tahapan 4: Analisis

Tahapan 5: Sintesis

Tahapan 6: Evaluasi

Piramida diatas dapat dijelaskan sebagai berikut:

Kowledge. Ambillah contoh, misalnya kita mengajarkan nilai-nilai Pancasila atau agama. Yang pertama kali perlu kita lakukan adalah menjelaskan atau menyuruh menghafal rumusnya, dalilnya, atau konsepnya sebagai pengetahuan bagi anak didik kita.

Comprehension. Setelah anak didik memiliki pengetahuan, perlu ada ruang untuk memahami atau memperoleh pemahaman tentang makna-makna. Makna adalah pemahaman yang kita ciptakan. Makna bukan tergantung pada thing (benda / konsep), tetapi tergantung pada man (orang). Artinya sebuah konsep akan dapat memiliki makna yang berbeda pada masing-masing orang.

Application. Makna saja tentu tidak cukup dan kurang ada gunanya bila hanya disimpan di kepala. Perlu ada fasilitas untuk menerapkan makna itu ke dalam kehidupan sehari-hari.

Analysis. Ketika orang menerapkan makna, pasti ada lika-likunya, masalahnya, atau kesalahannya. Ini manusiawi. Karena itu perlu dibuka ruang untuk menganilisis, menemukan perbedaan, mencari titik temu, dan lain sebagainya

Sintesis. Dengan melakukan analisis, seseorang akan menemukan format hidup yang mungkin sangat personal dari proses memahami suatu konsep, memahami realitas, makna, dan praktek

Evaluation. Melalui tahapan-tahapan diatas seseorang akhirnya memiliki alasan yang intelektual, emosional-sosial, dan spiritual untuk menentukan apakah nilai-nilai yang ia yakini itu berguna atau tidak.

Anda bisa saja tidak sependapat dengan tahapan-tahapan yang diajukan oleh Bloom diatas. Tetapi satu hal yang saya yakin kita semua sepakat adalah bahwa menanamkan nilai-nilai itu tidak cukup dengan diajarkan, dikhotbahkan, dan diujikan. Nilai-nilai ditanamkan melalui gesekan dan proses yang panjang. Sama seperti proses lahirnya Pancasila dan berdirinya negara Republik Indonesia yang kita cintai ini.

Pola pendidikan kita yang cenderung mementingkan hasil ujian ketimbang “bekal / ilmu yang dapat diaplikasikan” ke masyarakat telah terbukti tidak membawa kita menuju pada suatu kemajuan yang berarti. Bahkan kalau memperbandingkan dengan negara lain, kita bisa disebut mengalami penurunan dalam kualitas sumber daya manusia (SDM). Peringkat Sumber Daya Manusia Indonesia saat ini bahkan jauh lebih rendah daripada negara-negara tetangga yang 30 atau 40 tahun yang lalu belajar dari kita. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang dikeluarkan oleh United Nation Development Programme (UNDP) tahun 2009 yang menempatkan Indonesia pada peringkat ke – 111 dari 182 negara dengan jelas menunjukkan bahwa Indonesia masih berada dibawah negara-negara ASEAN lainnya, seperti Singapura (peringkat ke-23), dan Malaysia (peringkat ke-66), Thailand (peringkat ke-87) dan Philipina (peringkat ke-105).

Dengan kualitas sumber daya manusia yang tidak memadai maka jelas sekali bahwa mentalitas manusianya juga menurun. Padahal faktor penting dalam menanamkan nilai adalah terletak pada mentalitas orang. Artinya hanya orang yang mentalitasnya kuat yang mampu dan mau menjalani proses yang panjang dan seringkali tidak menyenangkan. Tidak ada yang bisa terjadi secara instant.

Apa yang Masih Bisa kita Lakukan?

Dalam beberapa hal, memang terasa kurang fair jika tanggungjawab perbaikan bangsa ini hanya diarahkan ke dunia pendidikan, terutama guru. Guru-guru punya masalah dan keterbatasan.

Malah ada sebagian guru yang punya dalih begini: “Kami sudah mati-matian mengolah generasi, tapi media merusaknya, lingkungan sosial mengacaukannya, pejabat publik meng-kontra-produktif-kannya. Ini belum termasuk masalah kami sendiri di dalam.”

Terlepas dari adanya masalah dan keterbatasan itu, sebagai guru memang kita setidak-tidaknya selalu mengingat kaidah dasar, yang berbunyi: “Jika yang ideal masih sulit kita wujudkan, setidak-tidaknya tidak kita tinggalkan proses mewujudkan yang ideal itu.” Nah, jika dari kaidah dasar ini, masih ada ruang yang luas untuk berperan dalam mem-Pancasila-kan generasi muda kita. Misalnya:

Selalu melandasi materi pelajaran yang diajarkan kepada anak didik dengan nilai-nilai, tanpa melihat apakah bidang yang kit aajarkan itu adalah mengajarkan nilai-nilai atau tidak. Penanaman nilai-nilai bukanlah tugas guru agama, guru pendidikan Kewarganegaraan atau pun guru Budi pekerti (mudah-mudahan masih banyak sekolah yang memberi materi ini) saja.

Ikut berperan dalam menunjukkan kelebihan dan kekurangan bangsa ini  dan berusaha menjelaskan kepada anak didik tentang fakta-fakta yang sebenarnya.

Mulailah kita memaknai agama dari kualitas ber-Tuhan, bukan sekedar identitas agar diakui oleh orang lain. Ini harus dilakukan sejak dini agar anak-anak lebih memaknai ke-Tuhanan daripada label agama.

Mulailah melihat kesalahan siswa sebagai proses untuk menganalisis, menalar, dan mengevaluasi nilai.

Mulailah kita belajar mengajak siswa mengkritisi penyimpangan nilai Pancasila sebagai panggilan komitmen, bukan amarah.

Apa yang dilakukan para guru tidak akan banyak hasilnya jika tidak didukung oleh pemerintah selaku pembuat regulasi dalam dunia pendidikan. Penyusunan kurikulum sampai dengan proses evaluasi belajar tahap akhir nampaknya perlu ditata ulang agar para anak didik diberikan kesempatan untuk dapat mentransformasi nilai-nilai menjadi sebuah standard perilaku.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s