A. Pengertian
Depresi adalah suatu perasaan sedih dan pesimis yang berhubungan dengan suatu penderitaan. Dapat berupa serangan yang ditujukan pada diri sendiri atau perasaan marah yang dalam. (Nugroho, wahyudi: 2000)
Depresi atau melankolia adalah suatu kesedihan atau perasaan duka yang berkepanjangan. (Stuart: 1998)
Menurut kriteria baku yang dikeluarkan oleh DSM-III R yang dikeluarkan ole Asosiasi Psikiater Amerika, diagnosis depresi harus memenuhi kriteria dibawah ini (Van der Cammen, 1991):
1. Perasaan tertekan hampir sepanjang hari.
2. Secara nyata berkurang perhatian atau keinginan untuk berbagai kesenangan atau semua aktifitas.
3. Berat badan turun atau naik secara nyata, atau turun naiknya selera makan secara nyata.
4. Insomnia atau justru hipersomnia.
5. Agitasi atau retardasi psikomotorik.
6. Rasa capai atau lemah atau hilangnya kekuatan.
7. Perasaaan tidak berharga, rasa bersalah yang berlebihan
8. Hilangnya kemampuan untuk berfikir, berkonsentrasi atau membuat keputusan.
9. Pikiran berulang tentang kematian (bukan sekedar takut mati), pikiran berulang untuk lakukan bunuh diri tanpa rencana yang jelas.

B. Etiologi
Depresi pada usia lanjut bukan merupakan suatu keadaan yang disebabkan oleh patologi tunggal, tetapi biasanya bersifat multifaktorial. Adapun faktor-faktor yang menyebabkan depresi antara lain:
1. Susunan kimia otak dan tubuh
Beberapa bahan kimia didalam otak dan tubuh tampaknya memegang peranan yang besar dalam mengendalikan emosi. Pada orang depresi ditemukan dalam jumlah bahan kimia tersebut. Hormon noradrenalin yang memegang peranan utama dalam mengendalikan otak dan aktifitas tubuh tampaknya berkurang pada mereka yang mengalami depresi. Pada wanita perubahan hormon dapat meningkatkan resiko terjadinya depresi.
2. Kepribadian depresif
Orang yang mempunyai kepribadian depresif (terus-menerus bersikap sedih dan putus asa) membuat mereka terasing dalam masyarakat dan akibatnya mengakibatkan terjadinya depresi.
3. Stress
Kematian orang yang dicintai, kehilangan pekerjaan, pindah rumah atau stress yang berat dianggap dapat menyebabkan depresi. Reaksi terhadap stress seringkali ditangguhkan dan depresi dapat terjadi beberapa bulan sesudah peristiwa itu terjadi.
4. Penyakit fisik
Lansia yang menderita fisik atau kondisi kelumpuhan yang lama seperti arthritis rematoid dapat berakhir dengan depresi

C. Klasifikasi
Penggolongan depresi menurut penyebabnya antara lain:
1. Depresi reaktif
Pada depresi reaktif, gejalanya diperkirakan akibat stress luar seperti kehilangan seseorang atau kehilangan pekerjaan.
2. Depresi endogenus
Pada depresi endogenus gejalanya terjadi tanpa dipengaruhi faktor luar. Seorang psikiater mendiagnosa seorang pasien menderita depresi endogenus jika mereka menunjukkan tanda – tanda sedih menarik diri dan mempunyai beberapa gejala berikut ini:
a. Hilangnya hasrat seks
b. Anoreksia atau kehilangan berat badan
c. Kelambatan fisik dan mental atau kegelisahan serta agitasi
d. Bangun pagi-pagi
e. Perasaan bersalah
f. Tidak menikmati apa-apa
g. Suasana sedih yang menetap yang tidak berubah walaupun hal menyenangkan terjadi
h. Suasana hati sedih yang berbeda dari kesedihan biasa.

Penggolongan depresi menurut gejalanya:
1. Depresi neurotik
Terjadinya depresi neurotik biasanya setelah mengalami peristiwa yang menyedihkan, tetapi yang jauh lebih berat daripada biasanya. Penderitanya seringkali dipenuhi trauma emosional misalnya kehilangan orang yang dicintai, pekerjaan, barang berharga atau seorang kekasih. Gejalanya berupa gelisah, cemas, ketakutan yang abnormal.
2. Depresi psikotik
Secara tegas istilah psikotik harus dipakai untuk penyakit depresi yang berkaitan dengan delusi dan halusinasi atau keduanya.

D. Manifestasi Klinik
Manifestasi klinik yang terjadi pada usia lanjut antara lain: apatis, penarika diri dari aktifitas social, gangguan memori, menurunnya perhatian serta memburuknya kognitif secara nyata, penurunan nafsu makan, sukar tidur.

Depresi pada usila sering kali kurang atau tidak terdiagnosis karena hal sbb:
1. Penyakit fisik yang diderita seringkali mengacaukan gambaran depresi antara lain: mudah lelah, dan penurunan berat badan.
2. Golongan usila seringkali menutupi rasa sedihnya dengan justru menunjukkan bahwa dia lebih aktif
3. Kecemasan, obsesinasionalitas, hysteria dan hipokondria yang sering merupakan gejala depresi justru sering menutupi depresinya. Penderita dengan hipokondria misalnya justru sering dimasukkan ke bangsal penyakit dalam atau bedah (karena diperlukan penelitian untuk konstipasi).
4. Masalah sosial yang juga diderita seringkali membuat gambaran depresi menjadi lebih rumit

E. Pemeriksaan Penunjang
1. Skala Depresi Geriatrik (SDG)
Suatu kuesioner terdiri dari 30 pertanyaan yang harus dijawab “Ya” atau “Tidak”
2. Skala Depresi Rentang-Mandiri Zung
Terdiri dari 10 pernyataan positif dan 10 pernyataan negatif yang dijawab dengan waktu yang sudah ditentukan.
3. Kuesioner Kesehatan Umum (KKU)
Instrumen penggunaan mandiri yang terdiri dari enam perubahan deteksi ada tidaknya distres psikiatri.
4. Inventaris Depresi Back (IDB)
Terdiri dari pertanyaan yang berkenaan dengan 21 karakteristik depresi.
5. Pusat untuk Studi Epidemologis Skala Depresi (PSE-D), Instrumen ini terdiri dari 20 pokok pernyataan
6. Instrumen yang lain adalah Jadwal Wawancara Diagnostik (JWD), Campuran Wawancara Diagnostik Internasional, CAMDEX ( Cambridge Mental Disorders of The Elderly Examination), Canbera Interview for the Elderly (CIE), dll

F. Pentalaksanaan Medis
Yang utama pada depresi adalah sebagai berikut:
1. Obat antidepresan
Jenisnya:
a. Antidepresan trisiklik
- Bersifat sedatif: amitriptilin, dotipin
- Sedikit bersifat sedatif: imipramin, nortriptilin, protriptilin
b. Antidepresan yang lebih baru
- Bersifat sedatif: trasodon, mianserin
- Kurang sedatif: maproptilin, lofepramin, flukoksamin.
Obat antidepresan berfungsi meningkatkan tingkat transmitter tertentu (monoamin) di otak yang biasanya ada pada penderita depresi.
2. Terapi Elektroconfulsif (ECT).
Terutama untuk merawat penderita penyakit depresi yang berat dan yang mengancam jiwanya. ECT merupakan pemberian arus listrik kecil yang dialirkan ke otak melalui kedua pelipis (ECT bilateral) dan satu pelipis (ECT unilateral). ECT cukup aman bagi para lansia yang renta, yang menderita tekanan darah tinggi, penyakit Parkinson, jantung, serangan otak.

G. Pengkajian
Beberapa hal yang ditemukan dalam depresi:
Untuk afektif ditemukan adanya beberapa tanda dan gejala diantaranya: Kemarahan, ansietas, apatis, kepahitan, kekesalan, penyangkalan perasaan, kemurungan, rasa bersalah, ketidakberdayaan, keputusasaan, kesepian, harga diri rendah, kesedihan
Untuk fisiologik ditemukan adanya beberapa tanda dan gejala diantaranya: nyeri abdomen, anoreksia, sakit punggung, nyeri dada, konstipasi, pusing, keletihan, sakit kepala, gangguan pencernaan, insomnia, kelesuan, gangguan tidur, perubahan berat badan.
Untuk kognitif ditemukan adanya beberapa tanda dan gejala: ambivalens, kebingungan, ketidakmampuan berkonsentrasi, tidak dapat mengambil keputusan, kehilangan minat dan motivasi, menyalahkan diri sendiri, mencela diri sendiri, pikiran yang destruktif tentang diri sendiri, pesimis, ketidakpastian.
Untuk perilaku ditemukan beberapa tanda dan gejala, yaitu agresif, agitasi, intoleransi, mudah tersinggung, sangat tergantung, kebersihan diri yang kurang, isolasi sosial, mudah menangis, menarik diri.

I. Diagnosa Keperawatan
1. Anxietas
2. Komunikasi, kerusakan verbal
3. Koping komunitas, inefektif
4. Berduka
5. Berduka, disfungsional
6. Keputusasaan
7. Cidera, resiko terhadap
8. Kesepian, resiko terhadap
9. Nutrisi, perubahan
10. Ketidakberdayaan
11. Defisit perawatan diri
12. Gangguan harga diri
13. Gangguan pola tidur
14. Isolasi sosial
15. Distres spiritual
16. Proses pikir, perubahan
17. Amuk, resiko terhadap; diarahkan pada diri sendiri

Diagnosa keperawatan primer adalah sebagai berikut:
1. Berduka, disfungsional
2. Keputusasaan
3. Ketidakberdayaan
4. Distres spiritual

H. Intervensi
Diagnosa: keputusaaan
Hasil yang diharapkan pasien responsif secara emosional dan kembali pada tingkat fungsi sebelum sakit
1. Instruksikan pasien tentang perilaku yang korektif
2. Gunakan bermain peran dan praktik yang terarah untuk memberi kesempatan kepada pasien menguji-cobakan perilaku baru
3. Berikan pekerjaan rumah kepada pasien untuk melakukannya dilingkungannya
4. Berikan umpan balik, dukungan dan pujian untuk ketrampilan sosial baru yang telah dilakukan.
5. Bina hubungan melalui pembagian waktu dan persahabatan yang mendukung
6. Beri pasien waktu untuk berespons
Evaluasi
- Apakah semua sumber pencetus stres dan persepsi pasien telah digali?
- Apakah hubungan sosial pasien didukung sebagai sumber koping?

Diagnosa : berduka, disfungsional
Hasil yang diharapkan pasien dapat mengidentifikasi perasaannya, menggunakan koping yang tepat, dan mencegah terjadinya krisis pasien untuk bunuh diri
1. Evaluasi potensial pasien untuk bunuh diri secara berkesinambungan
2. Rawat semua pasien yang beresiko bunuh diri
3. Bantu pasien untuk pindah ke lingkungan yang baru jika mungkin
4. Gunakan penggunaan pendekatan yang hangat, menerima dan empati
5. Arahkan pasien untuk mengendalikan perasaan dan reaksi diri sendiri
6. Berikan asuhan yang bersifat individual dengan memperhatikan manusiawi pasien
7. Berikan respons sederhana dan tulus
8. Waspada terhadap kemungkinan manipulasi
9. Tetapkan batasan yang konstruktif terhadap perilaku negatif
10. Gunakan pendekatan yang sama oleh anggota tim kesehatan
11. Pertahankan komunikasi yang terbuka dan berbagi persepsi antara anggota tim
12. Kuatkan kendali diri dan aspek positif dari perilaku pasien
13. Bantu pasien memenuhi kebutuhan perawatan diri, terutama nutrisi, tidur dan higiene personal
14. Dukung kemandirian pasien apabila memungkinkan
15. Kolaborasi untuk medikasi dan pengobatan somatik
16. Berespons dengan penuh empati dan berfokus pada perasaan daripada fakta
17. Kenali kepedihan pasien dan tunjukkan harapan untuk sembuh
18. Bantu pasien mengalami perasaan kemudian mengekspresikannya dengan koping yang tepat
19. Bantu pasien untuk mengekspresikan kemarahannya dengan tepat
20. Tinjau konsepsualisasi pasien tapi jangan menerima kesimpulannya
21. Identifikasi pikiran negatif pasien dan bantu untuk menguranginya
Evaluasi
- Apakah perubahan pola perilaku dan respons pasien tentang episode depresi?
- Apakah tindakan pencegahan yang tepat untuk kemungkinan bunuh diri telah dilakukan?

Diagnosa: distres spiritual
Hasil yang diharapkan pasien dapat mengidentifikasi penyebab dan perilaku yang positif.
1. Bantu meningkatkan pemikiran positif
2. Periksa keakuratan persepsi, logik dan kesimpulan
3. Identifikasi persepsi yang salah, penyimpangan, dan keyakinan yang tidak rasional
4. Bantu pasien mengalihkan tujuan dari tak realistik ke realistik
5. Kurangi tujuan yang tidak mungkin tercapai
6. Batasi jumlah evaluasi negatif pasien
7. Berikan tugas terapeutik yang berorientasi pada aksi sesuai
Evaluasi
Apakah pasien telah dikaji sesuai dengan masalah yang berhubungan dengan konsep diri dan hubungan interpersonal?

Diagnosa : ketidakberdayaan
Hasil yang diharapkan pasien dapat melakukan aktifitas yang adaptif
1. Dukung aktivitas secara bartahap, tingkatkan sejalan dengan mobilisasi energi pasien
2. Berikan program yang nyata dan terstruktur
3. Tetapkan tujuan yang realistik, relevan dengan kebutuhan dan minat pasien, fokuskan pada aktivitas positif
4. Sertakan pasien dalam latihan fisik dalam rencana asuhan pasien
5. Kaji ketrampilan sosial dukungan dan minat pasien
6. Tinjau sumber-sumber sosial potensial yang ada
7. Libatkan keluarga untuk mendukung respons emosional adaptif pasien
8. Dukung dan libatkan keluarga dalam terapi kelompok yang sesuai

Evaluasi
- Apakah intervensi keperawatan cukup luas dan mencakup berbagai aspek dari kehidupan pasien?
- Apakah pasien mengalami peningkatan kepuasan dan kesenangan dari dunia kehidupannya sendiri?

AGING THEORIES

About these ads